Tips Menentukan Nama Tokoh


Menentukan nama tokoh adalah salah satu hal super penting bagi penulis. Sebagai salah satu unsur intrinstik novel, setiap cerita tentu harus mempunyai Tokoh. Tokoh tanpa nama ibarat sayur tanpa sayuran. Tidak manuk akal sama sekali, bukan? Kalian bayangkan menjadi seseorang, tapi tidak memiliki nama? Bencana macam apa itu!

Tetapi, tak jarang memilih nama justru menjadi kesulitan terbesar penulis. Berkali-kali ganti nama karena tidak cocok atau kurang sreg. Hal itu menyebabkan penokohan menjadi kurang kuat, tak jarang penulis memilih nama tokoh yang tidak sesuai zaman, terlalu panjang, terlalu pendek, bahkan tidak bisa dilafalkan sama sekali.

Berikut ini Impy akan memberikan beberapa tips berfaedah untuk membuat nama tokoh yang mungkin bisa kalian terapkan pada cerita masing-masing. Tips ini diambil dari berbagai sumber, termasuk juga pengalaman pribadiku saat memilih nama tokoh.

Langsong saja kita tengok!!!


1. Sesuaikan dengan Genre dan Latar

Pertama, perhatikan genre ceritamu, apakah Fantasi, atau Teenlit, Romance, atau bahkan mungkin Sci-Fi. Setelah memperhatikan genre, saatnya memperhatikan latar tempat. Apakah zaman dulu atau zaman sekarang. Apakah di Indonesia atau negara lain, atau bahkan di luar angkasa. Jangan sampai kalian asal comot nama tokoh tanpa memperhatikan hal-hal di atas.

Lucu kedengarannya kalau tokoh cerita Fantasi berlatar abad pertengahan Inggris bernama Icha. Atau tokoh cerita bergenre Teenlit latar zaman sekarang dengan tokoh bernama Ngatiyem. It's giving gak masuk akal dan ngasal. Well ... sebenarnya ada cara supaya hal-hal di atas bisa masuk akal dengan rumus "Apa pun bisa terjadi dalam fiksi, asal ada sebab-akibat".

Namun oh nenamun, kebanyakan eksperimen nama tokoh wadidaw di khalayak ramai datang dari penulis pemula. Mereka memakai nama-nama tokoh yang tidak pada tempatnya cuma biar kelihatan quirky dan beda banget. Darling ... BFFR. Be Fakin For Real!

2. Buat yang Mudah Dilafalkan

Setiap penulis ingin nama-nama tokoh dalam ceritanya unik. Tapi ingat ini, Pembaca Budiman ... unik bukan berarti pakai bahasa planet lain! Kemungkinan 99,99% pembaca melafalkan nama tokoh di dalam hati. Nah, ketika pembaca sangat kesulitan melafalkan nama tokoh sampai mereka harus melafalkannya keras-keras, itu tandanya nama tokoh kalian BREKELE.

Coba lihat nama anak laki-laki dari Juragan Elon Musk. X Æ A-12 Musk. What in the actual lamb was that? Kalau aku disuruh melafalkan nama itu, aku akan bilang. Eks EA EA dua belas. Dan aku langsung membayangkan bagaimana jadinya kalau aku adalah Onty dari Eks EA EA Dua Belas di pertemuan hari raya Idul Fitri.

"Wah, Eks EA EA Dua Belas udah gede, ya! Kelas berapa sekarang? Kelas 3 SD? Wah, udah pinter perkalian lima, dong! APA? Udah bisa bikin roket???"

Aku yakin bakal ada Nerd Freak yang mengatakan, "Akhcually 🤓☝🏻 pelafalannya sangat simpel kalau kalian paham rumus fisika, matematika, geografi, dan jaljalut."

SHUT UP! Kalian juga tidak akan tahu bagaimana pelafalan nama anak ini kalau tidak melihat Mbah Gugel!

Hati-hati juga untuk TIDAK membuat nama tokoh yang pelafalannya sederhana, tapi ditulis dengan begitu aduhai. Beberapa contohnya adalah ... Lieghta alias Lita, Vyliean alias Vilian, Aenitha alias Anita, Reinaldhy alias Renaldi, dan masih banyak lagi variannya.

Intinya, ingat saja kata pepatah bijak "Keep it simple to make it nempel di otak pembaca." Karena sejatinya, penentuan dari bagus atau tidaknya, keren atau memble-nya tokoh bukan dari penulisan nama yang kedengaran Kul Bet, melainkan bagaimana penokohan tokoh tersebut sepanjang cerita.

Sampek sini paham, yah.

"Kalau begitu nama tokoh ribet dan susah dibaca juga gak apa-apa dong, Impy! Kan yang penting penokohannya."


3. Perhatikan Latar Belakang

Latar belakang tokoh mencangkup kebangsaan, wilayah, bahkan suku akan sangat barokah sebagai lapisan untuk memberi ciri khas pada nama tokoh. Seperti di dunia nyata kita biasa memanggil Uda atau Uni pada orang padang, atau Ucok kalau sedang belanja di warung Madura. Atau Cici dan Koko saat belanja kosmetik atau ke toko bangunan.

Bukan berarti tokoh-tokoh tersebut harus diasosiasikan dengan pekerjaan tertentu seperti contoh buatanku di atas. Namun, menambahkan sebutan spesifik begitu secara sekilas pada dialog akan membuat tokoh kita kelihatan lebih autentik. Apa lagi Indonesia punya ratusan suku dengan kebudayaan masing-masing yang sangat beragam. Itu ibarat surga referensi bagi para penulis.

Manfaatkan keragaman yang Indonesia miliki dengan rasa hormat, maka tokoh kita tidak terkesan seperti raga tanpa nyawa. Itu juga berguna untuk latar di luar negeri. Perbedaan nama penduduk antara Utara, Selatan, Timur, dan Barat bisa saja sangat berbeda. Ada keunikan-keunikan tertentu dari satu wilayah yang tidak dimiliki wilayah lain.

Kalau genre Fantasi dan latarnya bukan di Bumi? Malah lebih mudah lagi ... Penulis memegang kuasa seutuhnya tentang apa saja ciri khas pemberian nama dari sebuah wilayah. Contoh nyata ada di novel (atau film) The Lord of The Ring. Antara Hobbit, Elf, Manusia, serta Dwarf punya ciri khas nama masing-masing yang membuat setiap tokohnya istimewa serta autentik.

4. Jangan Memberikan Nama yang Mirip

Ini adalah masalah yang tanpa sadar dialami oleh sebagian besar penulis. Aku adalah salah satunya. Jadi ... aku pernah sangat menyukai nama berawalan 'Ann'. Entahlah, nama itu terdengar unyu bagiku. Sangat unyu sampai aku menamai dua tokoh utamaku Anna dan Annie. Tahu apa yang terjadi berikutnya? Kepribadian yang terbulak-balik satu sama lain.

Begitu kembali pada cerita itu untuk melakukan revisi, aku pun pusing tujuh keliling. Ini siapa yang siapa, bejir? Anna aku gambarkan cerewet sedangkan Annie lebih pendiam, tapi di pertengahan cerita si Annie malah nge-reog, sementara Anna tersipu-sipu sok unyu. Ini bijimana jadinya! Akhirnya aku mengganti nama Anna menjadi Alice, sebab aku tidak sanggup lagi!!!

Nah, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas? Kagak ada, itu hanya ke-brekele-an otakku yang berkapasitas 4/8GB.

Bercanda, deng! Pelajarannya tentu saja jangan, aku ulangi JANGAN memberi nama tokoh yang mirip. Percayalah kalian bakal-pasti-akan kewalahan mengurus penokohan mereka. Tidak peduli seteliti apa pun, tragedi salah sebut nama atau salah kepribadian pasti ada. Percayalah padaku, ratusan kali aku melihat kesalahan serupa dalam novel terbit.

Bahkan novel terbit sekelas Mayor yang sudah pasti masuk tahap Editing dan Proof-reading oleh orang-orang profesional tidak luput dari masalah itu. WASPADALAH! WASPADALAH!

5. Hindari Nama-nama Orang Berpengaruh

Aku rasa judul sudah menjelaskan ... Bayangkan memberi tokoh kalian nama seperti Jokowi, Prabowo, Rasputin, atau malah Hitl ... (kenak sensor). Maksudku, masyarakat sudah punya pride and prejudice pada nama-nama tersebut. Sudah ada "branding" yang teramat kuat sehingga akan susah menciptakan penokohan baru dari nama orang berpengaruh.

Kecuali mungkin nama itu digunakan memang untuk hal-hal ironi di atas ironi. Misalnya seluruh kepribadian serta humor tokoh kalian adalah karena dia memiliki nama mirip dengan orang-orang berpengaruh. Namun ... apakah kita rela tokoh ciptaan kita, ANAK kita sendiri menjadi butt of the joke? Tentunya tidak, dong.

6. Nikmatilah Prosesnya

Pada akhirnya mau apa pun nama tokoh, dari mana pun inspirasi diambil, serta penting atau tidaknya makna nama tersebut, kita sebagai penulis pasti akan mencintai tokoh-tokoh dalam cerita kita seperti anak sendiri. Menamai tokoh dalam cerita, ibarat menamai bayi yang kita lahirkan sendiri, bayi yang nantinya akan kita banggakan.

Makanya menikmati proses penamaan tokoh sangat penting. Kalau kalian sudah membuat nama tokoh yang sangat kalian cintai, tapi termasuk ke dalam larangan dari tips-tips di atas. Maka aku mewajibkan kalian untuk MELUPAKAN tips di atas, dan tetap bangga dengan nama pemberian kalian.

Siapa peduli kalau nama tokoh kalian semuanya angka atau semuanya simbol? Yang terpenting adalah kalian bangga akan nama itu ... Asalkan, khusus untuk nama yang sulit dilafalkan, sebagai pembaca aku memohon dan memnita kepada kalian untuk membuat note cara pelafalan nama-nama wadidaw tersebut.

Tolong jangan menyiksa kami para pembaca seperti itu! I'M BEGGING YOU!!! Tersiksa dengan plot wadidaw sudah cukup buruk, janganlah kalian menyiksa kami dengan nama-nama tokoh yang wadidaw pula!

Nah, dengan catatan itu aku akhiri tips dan trik ini. Semoga bermanfaat untuk kalian yang sedang kebingungan dalam memberi nama tokoh. Janganlah kalian kebingunga, sebab kebingungan hanya untuk orang-orang bingung, dan aku yakin kita semua bukan orang-orang bingung.

Sampai jumpa di hari lain ^o^/


Comments

Impy's all-time-fav book montage

The School for Good and Evil
A World Without Princes
The Last Ever After
Quests for Glory
House of Secrets
Battle of the Beasts
Clash of the Worlds
Peter Pan
A Man Called Ove
My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
The Book of Lost Things
The Fairy-Tale Detectives
The Unusual Suspects
The Problem Child
Once Upon a Crime
Tales From the Hood
The Everafter War
The Inside Story
The Council of Mirrors
And Every Morning the Way Home Gets Longer and Longer


Impy Island's favorite books »

Baca Review Lainnya!

Ily

Sky Academy

Aldebaran (Bagian 1)

Mbah Rick Riordan Melanggar Semua Pakem dalam menulis POV1 (dan Tetap Bagus)

Laut Bercerita

Novel-novel Terkutuk (Mostly Watpat)

Aku Menyerah pada Serial Omen-nya Lexie Xu