Pramugari Berseragam Orange
Judul : Pramugari Berseragam Orange
Penulis : Bebekz_Hijau
Penerbit : NefeLibata Self Publishing
Tahun Terbit : 2023
QRCBN : 62-2705-0603-837
Tebal : 213 Halaman
Blurb :
Ini adalah cerita tentang perempuan.
Cassandra Nasution benar-benar tidak beruntung. Di hari yang melelahkan, saat energi sang pramugari cantik sudah mulai habis, ia dikejutkan oleh kedatangan rangkaian bunga besar di depan ruang staff. Rangkaian bunga mawar merah berisikan sebuah pesan manis 'Kepada Pramugari Berseragam Orange, sejauh apa pun kamu pergi, aku akan selalu mencintaimu.'
Rangkaian bunga yang dapat membuat pramugari lain merasa tersanjung, sayangnya tidak dengan wanita malang itu. Dalam hidupnya, hanya ada seseorang yang selalu memanggilnya dengan sebutan 'Pramugari Berseragam Orange'. Pria dari masa lalu, yang menutup hatinya untuk sebuah rasa bernama cinta.

A. The Pretty Duckling
Hellow, Pembaca Budiman di mana pun kalian berada! Bagaimana ibadah puasa kalian sejauh ini? Kalau Impy, jujurlly ... bukannya sombong atau apa, tapi aku sudah bolong lima (digampar). Percayalah itu bukan karena Mokel ataupun Budim, tapi murni karena kedatangan Si Bulan. Jadi kalau kalian ingin menghujat, silakan hujat Bulan, jangan aku!
Anyways, Review kali ini akan sangat spesial! Kalian pasti paham artinya kalau aku sudah bicara begitu, 'kan? BETUL! Aku akan kembali mereview karya dari teman Pesbukk tercinta! Marilah kita sambit, ekhem ... sambut relawan murah hati kali ini yaitu Bebekz Hijau!!! (prok-prok-prok). Atau aku pribadi memanggilnya The Pretty Duckling, sebab dia memiliki hati dan jiwa yang pretty.
EA. EA. EA.
Bayangkan saja Bebekz Hijau datang ke Postingan Pesbuk Impy yang khusus meminta rekomendasi novel ciptaan teman-teman, kemudian menawarkan novel karyanya. Get this ... Sodara Bebekz bukan cuma menawarkan, tapi dengan murah hatinya mau mengirimkanku satu novel ciptaannya secara GRATIISSS! Padahal aku beberapa kali meminta nominal harga, tapi dia memaksa untuk memberi secara cuma-cuma.
Di atas itu semua, Sodara Bebekz Hijau tidak membuang waktu untuk mengirim novel tersebut, sebab besoknya kemudian, novel itu sudah ada di tanganku!!! Oh Neptunus! Oh Poseidon! What did I do to diserve this much generosity! Aku jadi teringat kata pepatah bijak. "In the world full of Bebekz Peking, BE Bebekz Hijau!"
Namun oh nenamun, aku tetap ingin mengapresiasi karya Sodara Bebekz dengan cara memberikan review jujur serta barang kali melontarkan kritik-saran berfaedah. Aku sudah meminta izin kepada Sodara Bebekz, dan belio juga sudah mengizinkan aku berkomentar sesuka hati sehingga aku bisa memberikan opini konkret nan objektif.
Novel Sodara Bebekz berjudul "Pramugari Berseragam Orange". Hal pertama yang aku sadari dari novel ini adalah kualitasnya yang super-duper-ekstra menakjubkan! Awalnya aku pikir novel ini hard cover, melihat betapa kaku dan tebal sampulnya, tapi ternyata tidak!
Setiap halamannya tebal sampai-sampai aku harus mengecek dua kali tiap balik halaman, takutnya ke-double-an. Sampulnya juga simple dengan perpaduan ilustrasi elegan serta pemilihan warna adem. Dari fisik saja novel ini sudah mendapatkan nilai sejuta!
Tanpa berlama-lama, mari kita lihat isi dari novel Pramugari Berseragam Orange, sebab aku sudah tidak sabar lagi! Yuk menuju, PLOT!
B. Plot
Menceritakan seorang pramugari maskapai Fox Airline bernama Cassandra yang baru menyelesaikan penerbangan terakhir. Niat hati ingin segera pulang dan bobo cantik, berbagai hal wadidaw malah terjadi sehingga membuatnya stress berat. Mulai dari digoda bapak-bapak genit, dilabrak sahabat karib, cek-cok dengan mantan, sampai dituduh pelakor.
Semua bermula dari kiriman karangan bunga misterius ke tempat kerjanya. Karangan bunga yang bisa saja tidak berarti apa-apa, tapi jadi apa-apa karena yang mengirimnya adalah orang spesial dalam hidup Cassandra. Spesial dalam konotasi positif dan negatif. Di satu sisi si pengirim bunga membuat Cassandra mengenal makna cinta, di sisi lain si pengirim bunga juga jadi penyebab Cassandra trauma akan cinta.
Luka kelam masa lalu yang berusaha Cassandra sembuhkan malah menganga lebih lebar malam itu. Lantas bagaimana Cassandra menghadapi semua itu? Apakah sebenarnya masa lalu kelam yang menghantui Cassandra? Siapakah orang yang telah membuatnya trauma akan cinta? Kita akan tahu semua jawaban itu dalam SATU MALAM!!!
Aku jarang membaca novel dengan struktur seperti ini. Di mana puncak konflik terjadi di awal, kemudian latar belakang tokoh terkuak sedikit demi sedikit, lantas penyelesaian masalah dilakukan hanya dalam kurun waktu satu malam. Secara teori sturktur seperti itu akan membuat alur ceritanya super ngebut. Namun, anehnya porsi setiap elemen novel ini tetap pas. Aku bisa menikmati kisahnya tanpa merasa diburu-buru.
Ada empat tokoh inti dalam kisah ini, dan semuanya sempat menceritakan latar belakang tanpa perlu kalimat deskripsi yang terlalu harifah. Latar belakang setiap tokoh disisipkan dalam setiap flashback (bukan on-off) sehingga membuat plotnya tetap berjalan. Sejauh ini aku sangat menikmati novelnya. Ditambah Cassandra sebagai tokoh utama sangat likeable, tidak menye-menye, tipikal seterong gorl yang bukan sekadar penjabaran.
Sayang beribu sayang ... problemo-ku tentang novel Pramugari Berseragam Orange justru datang dari unsur KKK. Hey, jangan salah sangka! KKK yang dimaksud bukan kultus supremasi kulit putih di luar sana, tapi singkatan dari Konteks, Konsep, dan Kolerasi.
"Dapet ilmu dari mane tuh si Impy?" Aku dengar kalian bertanya. Tentu saja bikin-bikin sendiri, h3h3 (dilempar dari pesawat).
Meskipun aku bilang alur novel ini tidak terburu-buru dan setiap tokoh memiliki latar belakang yang jelas. Terkadang Konteks, Konsep, dan Kolerasi dari latar belakang itu sendiri tidak terlalu konkret. Misalnya di awal, aku bertanyea-tanyea kenapa judul bukunya "Pramugari Berseragam Orange", lebih tepatnya kenapa"Seragam Orange" menjadi highlight.
Awalnya aku berpikir novel ini akan menceritakan seorang pramugari yang terlibat masalah akibat fitnah, atau stereotipikal negatif pramugari di kalangan masyarakat, sampai akhirnya masuk lapas, dan memakai baju orange khas narapidana. Itu terdengar masuk akal untuk judul "Pramugari Berseragam Orange", kan? Ironi sekaligus menyedihkan, konflik dan judul pun punya kolerasi konkret.
Tapi eh tetapi, perihal "Seragam Orange" itu malah datang dari permintaan mantan Cassandra (Henry) yang mengharuskan Cassandra menjadi pramugari berseragam Orange ... Ha? Henry be like. "Qamu boleh menjadi pramugari, Cassandra. BUT ... seragam maskapaimu harus Orange!"
Maksudku ... alasan itu bisa jadi masuk akal. Sepele dan brekele, tapi bisa masuk akal kalau Henry memberitahu alasan KENAPA mengharuskan seragam maskapai tempat Cassandra kerja berwarna orange. Mungkin Orange adalah warna kesukaan Henry, atau Jeruk Orange adalah buah kesukaan Henry, atau Orange mengingatkan Henry pada senja. APA PUN alasannya akan kuterima!
Ini kagak!!! Henry mau seragam pramugari Cassandra berwarna Orange BIAR KENAPA??? Tidak ada kolerasi jelas antara judul dan konteks kalau begitu. Jadi saat ada karangan bunga berisikan pesan, "Kepada Pramugari Berseragam Orange bla bla bla ...." seharusnya Cassandra memang tidak perlu merasa sentimental, sebab konteks dan kolerasinya tidak ketemu!
Cassandra kepedean mikir. "Hanya Henry yang memanggilku Pramugari Berseragam Orange di dunia ini." Darling, be fakkin for real right now!
Kemudian, kurangnya pembuktian kalau tokoh-tokoh di sini memiliki kemistri sehingga emosi yang dirasakan tokoh kureng bisa dirasakan oleh pembaca. Misal ... narasi novel cukup jelas mengatakan kalau Henry adalah mantan terindah sekaligus terburuk bagi Cassandra. Kerana di awal hubungan, Cassandra tidak mencintai Henry sama sekali.
Hanya Henry yang selalu mengejar Cassandra, lantaran dia adalah wanita paling cantik yang pernah Henry lihat di dunia atau semacamnya (muter bola basket). Intinya, hubungan mereka di awal itu bertepuk sebelah tangan. Namun, lambat laun rasa cinta mulai muncul dalam diri Cassandra.
Sayang beribu sayang, di saat Cassandra sangat mencintai Henry, pria itu malah menikah dengan wanita lain, yang tidak lain dan tidak bukan adalah bes pren poreper en eper Cassandra sendiri, alias Melisa. GET THIS!!! Ternyata pernikahan Henry dan Melisa pun tidak bahagia, sebab hanya Melisa yang mencintai Henry, sementara Henry masih tidak bisa move on dari Cassandra.
Konflik utama novel pun terjadi. Henry sering mengirim karangan bunga untuk Cassandra, sampai akhirnya Melisa datang ke kantor Cassandra dan menuduhnya pelakor, kemudian Cassandra menelpon Henry untuk ikut datang, menjelaskan semuanya supaya masalah bisa selesai malam itu juga. Itulah garis besarnya, dan seperti yang kubilang konflik itu tersampaikan dengan cukup lugas.
Sekarang yang kurang dari novel ini adalah BUKTI. Cassandra tidak mencintai Henry di awal hubungan mereka, itu tergambarkan dengan baik. Ada bukti kalau Henry cuma mau Cassandra karena Cassandra cantik secara fisik. Tapi kemudian Cassandra mengatakan kalau rasa cinta mulai muncul seiring berjalannya waktu.
MANA BUKTINYA? Sumpah demi Neptunus, demi Poseidon tidak sekali pun Henry bersikap atau berperilaku yang membuatnya bisa dicintai. He is an A-hole! Dia berpikiran dangkal, tukang ngatur, misoginis, dan sombong, literally definisi sikopet-narsistik yang berpikir uang bisa membeli segalanya.
Henry tidak memperbolehkan Cassandra bekerja sebagai pramugari, padahal tahu kalau itu adalah impiannya sejak sang ibu meninggal. Dia selalu memberikan bunga pada Cassandra padahal Cassandra berkali-kali bilang kalau dia BENCI bunga. Jadi aku penisirin apa yang membuat Cassandra pada akhirnya mencintai Henry.
Kualitas apa yang dimiliki lakik brekele ini selain kegigihan? Kegigihan yang bahkan tidak menguntungkan, sebab dia melakukan kebalikan dari hal-hal yang Cassandra sukai! Tidak mungkin hanya karena Henry tamvan dan kaya, 'kan? Alasan itu bisa masuk akal juga, tapi penokohan Cassandra yang seterong dan independen akan hancur.
Begitu pula dengan hubungan Cassandra dan Melisa. Aku tidak pernah percaya kalau Cassandra dan Melisa pernah bersahabat baik, lantaran interaksi positif mereka cuma ada saat pertama berkenalan. Itu pun digambarkan dengan sangat SUS. Coba kalian perhatikan cuplikan di bawah.
(Adegan yang 88% sama seperti di novel)
"Hey, Anak Baru! Namaku Melisa, sahabatan, kuy!" Melisa memperkenalkan diri pada anak baru yang duduk sendiri di pu'unan.
Cassandra mengangkat telapak tangan, "Ga, dlu ... kalo temenan sama aku nanti kamu dibumly, lhoo."
"Gapapa, layau!" Melisa mengibas tangan beberapa kali, "Mendingan dibumly berdua daripada sendiri, ga sih?"
"Memangnya kenapa kamu mau berteman denganku?" tanya Cassandra kepo.
"Aku cuma ingin memiliki teman untuk berbagi susah dan senang. Aku yakin kamu tidak akan pernah meninggalkanku sendirian, dan apa pun yang terjadi padaku nanti, aku yakin kamu pasti memilih untuk tetap jadi temanku. Biarpun aku merampok bank atau mendirikan kultus radikal, kamu pasti akan tetap memilih berteman denganku!"
"Dih, enak aje lu! Ya, kagak mau, lah!"
Yang terakhir itu bukan jawaban Cassandra sesungguhnya, tapi kalau aku jelas akan mengatakannya, sebab niat Melisa untuk menjadi "sahabat" kok terkesan cuma menguntungkan dirinya sendiri! Kenapa dia tidak mengatakan hal yang sama untuk Cassandra? Bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Cassandra apa pun yang terjadi? Terlihat seperti BUKAN SAHABAT di mataku!
Nah, setelah perkenalan awikwok itu, tidak ada ... aku ulangi TIDAK ADA adegan manis persahabatan antara Melisa dan Cassandra. Yang ada cuma konflik negatif, dan betapa agresifnya Melisa dalam membenci Cassandra. Tidak tampak sama sekali kalau dua cecurut ini pernah saling menyayangi sebagai sahabat!
Mengesampingkan perihal pembuktian kemistri tokoh, aku juga ingin bilang ... Meskipun plot di sini tersampaikan dengan lugas, di sisi lain mungkin terlalu lugas? Segala misteri terungkap, tapi dengan cara yang agak brekele atau malah sepele.
Pertama, Cassandra putus dengan Henry karena orang tua Henry tidak menyetujui hubungan mereka. Alasannya karena Cassandra bukan dari keluarga baik-baik. Klise, tapi masuk akal, barangkali Henry sekeluarga memang berpikiran kolot. Kemudian akibat sedih berkepanjangan Henry berpaling pada Melisa, sahabat baik Cassandra. (Bukti lain kalau Henry adalah lakik brekele).
Di sisi lain, Melisa yang memang terobsesi pada Henry sejak lama bergerak cepat mencurangi pria itu supaya mau tidak mau harus menikahinya. Dari kejadian itu Henry pun menyesal, dia hendak kembali pada Cassandra. Anehnya, hal tersebut malah membuat Melisa marah, menyebut Cassandra pelakor dan sebagainya ... padahal posisi saat itu Henry dan Cassandra sudah lama tidak bertemu.
Pertanyaanku ... KENAPA SI MELISA PLAYING VICTIM BEGONO???
Lagi pula, Melisa katanya sudah lama menyimpan benci pada Cassandra, karena Henry mencintai Cassandra. Padahal Melisa juga cinta Henry (kagak tau apa alesannye). Maunya Melisa teh, Cassandra jangan membalas cinta itu kalau masih mau jadi sahabatnya. Eh, tapi Cassandra malah balas mencintai Henry. Makin menjadi-jadilah rasa benci Melisa pada Cassandra.
Bentar, kepalaku kok mau meletus! Ini jadi mereka beneran pernah bersahabat tulus kagak sih??? Kayaknye biang keladinya si Melisa, nih! Dia lebih cocok jadi musuh bebuyutan Cassandra daripada bes pren poreper-nya, deh!
KEMBALI KE LEPTOP!!!
Setelah kejadian tralala-trilili di bandara, akhirnya Cassandra dan Melisa berbaikan. Setelah Cassandra menyadarkan Melisa kalau selama ini sahabatnya itu hanya terobsesi pada Henry, bukannya cinta. Cassandra dan Melisa pun membuat rencana super gacor supaya Henry berhenti mengejar-ngejar Canssandra. Yaitu, Cassandra harus berusaha untuk menjauhi Henry.
...
...
...
LAH SELAMA INI CASSANDRA KAN MEMANG KAGAK PERNAH KETEMU HENRY!!! Dia sibuk bekerja menjadi seterong and independen woman sebagai pramugari, tapi Henry tetap ngejer-ngejer dia! Harusnya mereka melakukan sesuatu pada Henry, sebab dia lah alasan kenapa huru-hara malam itu bisa terjadi. Kenape jadi Cassandra lagi yang rempong! Heran bat guweh!
(Garuk jidat) Di akhir cerita, akhirnya Henry pun berjanji akan berusaha menjauhi Cassandra, setelah Cassandra juga menyadarkan Henry kalau selama ini perasaannya pada Cassandra bukan cinta melainkan obsesi (Iye, deh ... ustazah Cassandra!). Nah, setelah semua-mua-mua masalah selesai Cassandra pun jatuh pingsan, lantas diselamatkan oleh seorang pria tamvan.
Pria tamvan itu tidak asing sama sekali, dia bernama Matthew, alias pria yang membelanya dari godaan Om-om genit, dan mereka baru bertemu dua kali hari itu (bruuh). Matthew ternyata sangat baik hati dan tidak sombong, juga satu-satunya orang di seluruh dunia yang tidak peduli dengan status "buruk" Cassandra. Tentu saja mereka pada akhirnya berakhir bersama, dan hidup bahagia selamanya.
Aku ... punya sedikit masalah dengan tokoh Matthew, tapi kita bahas nanti saja di segmen Penokohan, karena kepalaku sepertinya sudah berasap! Bagaimana mungkin novel yang cuma 200 halaman lebih membuat kepalaku pusing-puyeng-pening daripada novel setebal 800++ halaman!
C. Penokohan
Cassandra. Lahir dari seorang "Pelakor", Cassandra sering kali mendapatkan diskriminasi. Orang-orang beranggapan "buah jatuh tak jauh dari pohonnya", yang berarti Cassandra pasti-bakal-mesti mengikuti jejak sang ibu, alias menjadi pelakor. Nyatanya Cassandra adalah wanita terhormat, mengejar mimpinya dengan usaha sendiri. Namun, kesalahan masa lalu sang Ibu terus menghantuinya.
Aku suka penokohan Cassandra, dia tidak menye-menye, berani menolak hal-hal di luar nurul dari Henry maupun Melisa. Meskipun tak jarang pola pikinya membuatku mengernyit. Seperti saat dia tersipu-sipu diberi bunga oleh Henry (yang dia tidak suka), atau saat pria itu memuja-muji dirinya secara berlebihan.
Cassandra be like, "Wanita mana yang tidak luluh hatinya saat diperlakukan begitu oleh pria setamvan Henry."
KAU LAH WANITA ITU, CASSANDRA! Kau seterong, logical, dan independen. Penokohanmu bukan wanita dangkal. Tidak seharusnya kata-kata manis serta tindakan love bombing membuatmu luluh, apa lagi dari lakik macem Henry!!! Well ... akui saja sekarang ini aku cuma sentimen ame si Henry.
Cassandra juga sedikit mengidap sindrom Not Like Other Gorl, meskipun tidak parah. Dia menganggap dirinya selalu disakiti, selalu dibumly, selalu kena judge, tapi kemudian men-judge wanita lain yang menurutnya "kurang cantik tapi ganjen". Darling ... kau terdengar seperti seorang pembumlly saat ini.
Melisa. Get this beach into mental assylum! Aku super-duper gedeg sama Melisa yang tidak pernah memakai logika barang secuil. Bayangkan saja ... dia menjebak Henry supaya bisa menikahinya, di saat dia tahu persis kalau Henry tidak mencintainya. Dia juga SANGAT TAHU kalau Henry mencintai sahabatnya. Juga SANGAT TAHU kalau Cassandra juga mencintai Henry.
Nah, saat Henry marah karena dijebak dan berpaling ke Cassandra, dia malah kebakaran jenggot! HARUSNYA ELU UDAH TAU KONSEKUENSINYA, DONG! Aku bukannya ingin membela Si Brekele Henry, tapi Melisa berharap apa dari pria yang dia jadikan korban penipuan serta pemaksaan kehendak? Cinta? Ke laut aje! Jangan Playing Victim di saat kau adalah PELAKU!
Udah gitu teriak-teriak ngatain Cassandra pelakor cuma karena Henry terus-terusan mengejarnya. Seolah Cassandra yang minta dikejer-kejer ame Si Brekele itu. Kalau mau menyalahkan orang, ya salahkan Henry, dong!!! Kenapa jadi Cassandra yang jelas-jelas tidak pernah sekali pun bertemu Henry semenjak hubungannya tidak direstui???
Melisa menyalahkan semua orang di dunia kecuali dirinya sendiri, dan aku benci itu. Aku harap penulis tidak bermaksud membuat pembaca menyukai atau merasa iba pada Melisa, karena jujur saja, aku tidak akan pernah merasakannya pada tokoh semodel dia!!!
Henry. Another mental assylum patient. Jujur aku tidak tahu apa yang penulis ingin kita rasakan pada tokoh Henry. Kesal, atau iba, atau jyjyk ... yang jelas bukan suka, sebab penokohan Henry mustahil bisa disukai oleh siapa pun. Itu sebabnya aku mempertanyakan kenapa Cassandra bisa "lambat-laun" menyukai si Sempak Kuda ini.
Mungkin Cassandra menyukainya, karena dia tamvan dan kaya tujuh turunan. Namun, melihat penokohan Cassandra yang seterong, tidak semestinya dia menjadi orang sedangkal itu! Aku akan sangat menyukai penokohan Henry kalau dia menentang orang tuanya yang kolot. Sayang beribu sayang, orang tua kolot melahirkan anak immature, ya modelan Henry beginilah.
Hal yang paling aku benci dari Henry adalah fakta bahwa dia super bingung dan terheran-heran ketika Cassandra tetap menolaknya, padahal dia sudah memberikan banyak sekali bunga untuk wanita itu. Si Sempak Kuda ini berpikir memberikan bunga adalah sebuah pengorbanan tingkat dewa yang harus diberi imbalan cinta!
GO TO HEEL!!!
Matthew. Tokoh ini diperkenalkan sepintas pada bab awal, ketika Cassandra digoda Om-om genit, Matthew membelanya dengan sengaja atau tanpa disengaja menunjukkan tato bergambar singa sehingga si Om-om jiper. Kemudian tokoh Matthew hilang sampai di bab akhir saat latar belakangnya diperjelas.
Penokohan Matthew jelas sudah digambarkan sebagai trope The Great Savior sejak awal kemunculan. Sudah jelas bahwa dia akan menjadi Love Interest baru untuk Cassandra. Jadi secara struktural tokoh Matthew tidak menarik sama sekali. Dua orang yang punya masa lalu kelam dan saling mengerti, pada akhirnya menjalin hubungan. Manis, tapi klise.
Yang membuatku heran tentang penokohan Matthew lagi-lagi menyangkut Konteks, Konsep, dan Korelasi. Terutama perihal Matthew menunjukkan tato singa pada tubuhnya yang membuat Om-om genit jiper. Dari adegan itu, pembaca jelas bakal beranggapan kalau tato singa itu punya makna khusus. Mungkin Matthew anggota mafia, genk motor, preman pasar, atau apa pun.
Itu masuk akal dan ada kolerasinya dengan adegan di awal, kan? Nyatanya tato itu tidak berarti apa-apa selain masalah pribadi. Matthew membuat tato singa itu untuk menutupi luka di masa lalu. Well ... bukan berarti tidak masuk akal, tapi kalau begitu untuk apaada adegan Matthew memamerkan tato sehingga si Om-om jiper kalau pada akhirnya adegan itu tidak punya Konsep, Konteks, dan Kolerasi yang nyambung ke cerita.
D. Dialog
Novel ini bisa dibilang memiliki rating dewasa (bukan yang hot-hot-hot), sebab semua tokohnya berusia di atas 21 tahun, plot dan konflik ceritanya pun akan lebih relate ke para pembaca dewasa. Itu sebabnya dialog dalam novel ini serius, beberapa kali agak vulgar, dan itu sangat sesuai dengan rating novelnya.
Porsi antara narasi dan dialog juga sangat pas. Setiap dialog punya makna, bukan sembarang tulis alias dialog ping-pong. Karakter tokoh tergambarkan dengan baik lewat dialog, dan itu memang salah satu tujuan utama adanya dialog. Kalau disuruh memilih, aku jelas paling suka dialog Cassandra yang sesuai dengan penokohannya sebagai wanita karir.
Dia seterong dan berprinsip, biarpun sekali lagi beberapa kali terkesan menye-menye dan agak bodo, terutama saat menghadapi Love Bombing dari Henry, tapi hey ... kita semua pernah bicara hal bodo selama hidup ini, jadi aku tidak akan mempermasalahkan lebih lanjut.
Howevah, aku jelas akan mempermasalahkan tentang betapa banyak Melisa menyebut kata "Pelakor" dari mulutnya. Melisa menyebut satu kata itu seperti bayi ngomong "mama" untuk pertama kalinya. Diulang-ulang mulu, bejir! Dialog Henry juga tidak kalah ngeselin ... kalau bukan vibe bocil, dialog orang ini malah kayak vibe penjahat super yang sering bermonolog.
Oh, penulis beberapa kali keliru dalam menggunakan kata ganti seseorang. Dalam satu dialog ada penggunaan "Aku" dan "Saya" secara bersamaan. Bukan masalah besar, tapi agak mengganggu untukku pribadi. (Kayak sendirinye kagak pernah aje!)
E. Gaya Bahasa
Penulis menggunakan POV3 dalam novel ini. Penggunaannya pun cukup tepat, hanya saja sadar atau tidak sadar penulis seringkali menggiring opini pembaca untuk merasakan sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan pembaca, karena hal itu tidak dideskripsikan dengan baik. Nah, nah, nah ... bingung kagak luh?
Misalnya begini ... narasi serta dialog menunjukkan sifat dan sikap brekele Henry. Mulai dari mengancam akan menghancurkan reputasi Cassandra, memaksa Cassandra menuruti kemauannya, bahkan bertingkah jahat pada Melisa. Namun, ujug-ujug ada kalimat seperti ini ....
"Henry tidak percaya wanita yang telah diperjuangkannya mati-matian itu, tetap menolak cintanya. Apakah yang dia lakukan selama ini belum cukup menyenangkan hati Cassandra?"
Bruuhh ... JANGAN MEMINTAKU UNTUK MENGASIHANI ORANG BREKELE MACAM DIA! Aku juga kurang suka cara penulis menyebut Cassandra sebagai "Wanita Malang" padahal kenyataannya Cassandra wanita yang kuat, terlihat dari caranya membela diri sendiri, menentang hal-hal wadidaw dari Henry dan Melisa, tidak menye-menye atau Play Victim.
Memang segala hal yang terjadi pada Cassandra membuat siapa pun iba, membuatnya terlihat malang, tapi rasanya penulis tidak perlu menyuarakan itu pada deskripsi, sebab penulis sudah menunjukkannya di sepanjang cerita. Aku yakin pembaca sudah merasa iba, pembaca sudah merasa Cassandra adalah wanita malang. Menuliskannya secara terang-terangan malah membuat pembaca merasa seperti anak TK.
HOW EVER!!!
Aku sangat suka cara penulis menampilkan masalah sosial dalam novel ini, terutama tentang stigma "pelakor". Bukti bahwa manusia adalah makhluk kompleks yang tidak harus selalu merefleksi dari masa lalu orang lain, dalam kasus ini orang tua. Kalau seseorang memiliki prinsip serta tekad yang kuat dia pasti bisa memutus rantai stigma. Cassandra adalah contohnya.
Budaya patriarki yang merajalela juga tergambarkan dengan jelas di sini. Bahwa tidak peduli siapa yang salah, siapa yang memulai, siapa korban atau siapa pelaku, wanita akan selalu jadi pihak yang dirugikan dalam perselingkuhan. That is soooo true! Kalimat paling ngena dari novel ini adalah dialog si Sempak Kuda Henry yang berkata ....
"Coba lihat di koran atau media sosial. Pernahkah kamu membaca nama-nama pria yang terlibat dalam kasus tersebut? Tidak, Cassandra!"
Dialog itu sangat membuatku marah, terlebih lagi diucapkan oleh Si Brekele. Tapi apa boleh baut, itu adalah kenyataan. Bisa saja si laki-laki yang menipu pihak wanita dengan menyebut dirinya single. Bisa saja si laki-laki yang tidak tahu malu mengejar-ngejar orang yang sudah jelas ogah menerimanya (alias Henry). Namun, ketika perselingkuhan terbongkar, pihak wanitalah yang mendapat stigma buruk.
BUT!!! Cassandra menangani masalah ini dengan barokah dan aku SANGAT SENANG!!!
F. Penilaian
Sampul : 4
Plot : 3
Penokohan : 3 (semuanya buat Cassandra)
Dialog : 2,5
Gaya Bahasa : 3
Total : 3 Bintang
G. Penutup
Aku ... tidak menyangka butuh waktu sangat lama untuk membuat review ini. Aku menyelesaikan novel ini beberapa hari setelah kedatangannya sekitar Februari awal, persis setelah menyelesaikan SGE ke-6. Itu sebabnya otakku agak acakadut memilah cerita ini serta cerita itu. Beberapa kali aku membayangkan Cassandra dalam wujud Agatha!!!
ANYWAYS!!! What a novel ... plotnya agak awikwok di beberapa bagian, tapi secara keseluruhan ini adalah novel yang menarik. Novelnya secara fisik juga sangat premium, aku jadi penisirin dengan info penerbitnya. Aku coba mencari nama NefLiBata Self Publishing, tapi tidak menemukan apa pun yang berfaedah. Apakah penerbitnya sudah bubar? AKU MOHON JANGAN!!!
BTW, terima kasih sekali lagi aku ucapkan kepada Sodara Bebekz Hijau. Aku akan sangat senang kalau boleh membaca karya-karya darimu yang lain, tapi kali ini aku ingin memberi sesuatu sebagai timbal balik, supaya tidak disangka kagak modal. If you know what I mean (wink-wink) ... (Percayalah, itu tadi bukan berkonotasi ngeres!)
Mungkin segitu dulu review dariku. Kita akan kembali (semoga) tidak lama lagi untuk membahas SGE seri terakhir. Dengan ini, aku ucapkan marhaban ya ramadhan bagi Pembaca Budiman yang merayakan. Sekalian saja Minalaidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin (emot budak korporat). Bagi kalian yang mudik, semoga selamat sampai tujuan.
Nah, sisanya yang di rumah saja (termasuk Impy), mari kita nikmati rumah kita, sebelum kembali menjadi budak korporat!
Sampai jumpa di lain review ^o^/
Comments
Post a Comment