Magical Seira #1 (Seira and The Legend of Madriva)
.png)
Judul : Magical Seira #1 (Seira and The Legend of Madriva)
Penulis : Sitta Karina
Penerbit : Buah Hati
Tahun Terbit : 2012 (Pertama terbit 2005)
ISBN : 9786027652088
Tebal : 240 Halaman
Blurb :
Putus asa menghadapi perpisahan orangtuanya sekaligus perasaannya sendiri yang tak tersampaikan kepada Abel―satu-satunya cowok di tim sepakbola yang bersikap apa adanya di antara gerombolan populer―Seira pun berharap dirinya menghilang.
Hanya saja ia tak menyangka hal itu benar-benar terjadi!
Kini yang terbentang di depan Seira adalah dunia dengan istana yang melayang di langit, pelangi yang dapat meninggalkan bercak warna pada tangannya, serta sosok yang menunggunya dengan paras sama seperti Abel… hanya saja yang ini tampak sangat berbahaya.

MENGANDUNG SPOILER!!!
A. Sitta Karina dan Fantasi era Golden Decade
Pembaca Budiman yang bersedih ria (karena bokek setelah lebaran). Kalian masih ingat Sitta Karina, penulis dari novel Aerial, novel Fantasi era Golden Decade yang membuat urat kepalaku berdenyut saking wadidaw konflik di dalamnya? Kalau tidak ingat, kalian bisa baca ulang review-nya di sini. Ternyata eh ternyata, Ses Sitta punya novel fantasi lain! Novel berseri pula!
Novel itu berjudul Magical Seira Series dan berjumlah tiga novel. Lucunya, novel ini pernah masuk daftar bacaku sejak zaman SMP kelas satu! Saat itu aku tidak tahu siapa penulisnya sehingga novel ini jelas sangat menarik minatku sebagai pencinta Fantasi. Walaupun, aku ingat sampul novelnya sangat tidak menarik. Keramean dan berantakan aja gitu kesannya.
Itu sebabnya sejak zaman dahulu pun, aku tidak pernah terlalu mengejer-ngejer novel ini, karena sampulnya (plakk). Namun oh nenamun, zaman sudah berubah, Impy sudah taubat, tidak mau lagi terlalu menilai novel sari sampulnya. Tentu saja karena novel zaman sekarang bersampul bagus dan semakin mudah bagi orang sepertiku untuk tertipu!!!
HOW EVAH! Aku versi dewasa sudah tahu siapa penulis novel Magical Seira, aku sudah punya prasangka dan praduga terhadap Ses Sitta Karina setelah membaca novel belio yang berjudul Aerial. Dalam review Aerial aku berkata kalau Ses Sitta tidak begitu cocok menulis genre Fantasi, sebab belio tidak begitu andal dalam mencocokkan logika, World Building, maupun meramu sistem sihir.
Masalahnya, aku rasa tidak adil menilai kemampuan menulis genre Fantasi Ses Sitta dari satu buku saja. Aku harus yakin opiniku kredibel, makanya aku membaca Serial Magical Seira untuk menganalisis lebih jauh kemampuan Ses Sitta dalam menulis Fantasi. Katakanlah aku ini Petugas Kebersihan dalam kartun Spongebob Squarepants, tapi versi novel Fantasi.
Oh satu hal lagi, meski tidak begitu aduhai dalam genre Fantasi, Ses Sitta jelas sangat ahli dalam menulis novel Romance-Drama. Bisa kalian baca sendiri novel Ses Sitta yang berjudul Rumah Cokelat. Aku sangat terkejut melihat kualitas novel itu berada jauh-jauh-jauh di atas Aerial.
Nah, jangan basa-basi lagi. Mari kita CEKIDOT!
B. Plot
Kita berkenalan dengan perempuan bernama Seira Hasanah. Tidak seperti teman-temannya yang cantik dan pandai bergaul, Seira adalah anak perempuan yang sangat cantik, tapi pemalu dan kalem (oh-no). Tidak seperti teman-temannya yang anggota tim Cheerleaders, dia hanya bisa bermain piano dan Kick-boxing (oh-no).
Tidak seperti teman-temannya yang menyukai cowok ganteng dari ekskul Sepak Bola, Seira menyukai cowok yang gak begitu ganteng dari ekskul Sepak Bola bernama Abel (oh-no). Tidak seperti teman-temannya yang borju, menganggap uang adalah segalanya. Seira tidak memikirkan semua itu, yang paling penting baginya adalah tidak merasa kesepain (oh-no).
Kalian mencium aroma itu? Aku menyebutnya aroma Not Like Other Gorl. Itu adalah Red Flag pertama, tapi aku tidak akan mempermasalahkannya untuk sekarang. Toh, Seira masih abege, masa di mana semua perempuan merasa dirinya Not Like Other Gorl. Aku pun begitu. Also ... aku ingin kalian mengingat tiga poin penting.
Pertama, Seira anak pemalu sehingga dia tidak mampu menyatakan perasaannya pada Abel. Kedua, orang tua Seira akan berpisah, plus mereka begitu mengatur segala kehidupan Seira. Ketiga, teman-teman populernya ternyata bermuka dua, alias bukan teman-teman yang tulus. Tiga poin itu nantinya akan sangat berguna sekaligus awikwok untuk plot.
LANJUT!!!
Akibat hal-hal di atas, Seira terkadang merasa ingin menghilang saja dari dunia. Dan itulah yang terjadi berikutnya. Seira tersambar petir es atau semancamnya, lantas terlempar ke dunia bernama Madriva. Dunia dengan istana di atas langit dan pelangi yang meninggalkan bercak warna di kulit. Ya ... aku mengambil itu dari Blurb, karena memang hanya itu informasi yang kita dapatkan di Madriva.
Tiada hujan, tiada badai, tiba-tiba Seira bertemu burung kakak tua yang bisa bicara bernama Tipsi. Si Burung ditugaskan oleh Mina Sang Kesatria Madriva untuk menjemput "Sang Terpilih" (alias Seira tentu saja) untuk dijadikan sekutu. Dengan bantuan Sang Terpilih, mereka akan bisa menggulingkan Raja kejam bernama Seth yang tinggal pada istana di atas awan.
Ada sangat banyak kejanggalan sepanjang adegan di atas. Pertama, yang paling Nitpicky adalah kenapa Seira kebakaran jenggot ketemu burung kakak tua yang bisa bicara? Maksudku ... keunggulan burung kakak tua memang BISA MENIRU UCAPAN MANUSIA! Memang, melihat burung kakak tua bicara lancar akan sangat aneh, tapi tidak cukup aneh sampai Seira harus kelabakan begitu!
Seira be like "BURUNG KAKAK TUA YANG BISA BICARA??? KEAJAIBAN DUNIA KEDELAPAN MACAM APA INI??? INI PASTI MIMPI!!! MIMPIII!!!"
Like, Darling ... Chill.
Udah begitu, Si Burung malah menjawab. "Tentu saja aku bisa bicara, aku ini bukan burung biasa lhooo."
Logikanya, dari mana Si Burung tahu kalau burung bisa bicara adalah sesuatu yang luar biasa? Toh, dia tinggal di Madriva, yang mana TIDAK SAMA dengan Bumi. Tidak diberitahu juga kalau Tipsi mengetahui daerah asal Seira dan apa saja hal-hal biasa atau luar biasa di sana. Ini adalah kekurangan dari World Building yang tidak matang. Mau mengambil Dunia Lain, tapi lupa kalau sedang ada di Dunia Lain.
Also ... Bagaimana Mina bisa tahu kedatangan Seira, sampai bisa menyuruh Tipsi menjemputnya? Padahal tidak digambarkan ada ramalan, tidak juga ada pertanda-pertanda. Bahkan Tipsi sendiri menyimpulkan kalau Seira adalah orang terpilih dengan kalimat brekele ini ....
"Hmmm ... kamu jatuh dari langit, tapi nggak terluka. Kamu pasti orang terpilih!"
WHAT??? Padahal Seira tidak terluka karena dia tidak langsung jatuh menimpa tanah. Dia mendarat di bunga raksasa! Are you telling me ... dari sekian banyak orang di Madriva, negeri yang dipenuhi keajaiban, serta sedang dalam kondisi berperang, yang mana pasti buanyak sekali adegan pertempuran. Cuma Seira yang pernah jatuh di atas bunga-bunga itu?
Saran guweh nih, Tipsi. Mending elu angkat lagi tuh Siera, terus elu jatohin di tempat yang kagak ade bunganye. Kalo masih hidup barulah kita bisa yakin dia adalah Sang Terpilih!
Kalian tahu apa lagi yang brekele? Begitu mereka sampai ke tempat Mina, dia malah bilang begini ... "Aku biasanya tidak mau menolong orang, layau ... tapi karena Tipsi keukeuh banget bilang kamu adalah penyelamat negeri ini, yaudin aku tolongin, dech."
PAN TADI KATENYE ELU YANG NYURUH TIPSI JEMPUT KARENA SEIRA ADALAH SANG TERPILIH. SEKARANG MALAH ELU BARU TAHU SEIRA ADALAH SANG TERPILIH DARI TIPSI ... BIJIMANE CERITANYE???
Namun oh nenamun, karena Seira adalah gadis cantik yang Not Like Other Gorl dan datang dari dunia lain, tentu saja dia adalah Sang Terpilih. DEAL WITH IT!
Percayalah wahai Pembaca Budiman, banyak sekali kontradiksi, inkonsistensi, serta hal tiba-tiba berkah yang terjadi pada novel ini. Terutama di bagian akhir. Seolah penulis harus mengakhiri novelnya dalam lima menit sambil ditodong katana sehingga apa pun dilakukannya supaya ceritanya masuk akal. Alih-alih masuk akal, belio malah menciptakan banyak sekali lubang.
Begini ... (bingung guweh mulai dari mane). Tipsi menjelaskan kalau di Madriva segala hal bisa terjadi asalkan orang itu punya kemauan kuat. Artinya Seira bisa mengeluarkan senjata atau melakukan berbagai hal epik selagi dia membayangkannya dengan sungguh-sungguh. That is cool and all ... dan aku ingin kalian ingat kalau Seira bisa mengeluarkan senjata APA SAJA.
Nah, saat lagi santai kawan bersama Mina dan Tipsi, tiba-tiba ada pesan dari Raja Seth yang bertulis. "Welkam di Madriva, Seira Mbla'em-mbla'em ... Aku ingin kamu datang ke istanaku besok pagi. Kalau tidak dateng nanti kupukul."
Oh, aku lupa mengatakan kalau Seth sangat mirip Abel, alias orang yang Seira suka di bumi. Makanya Seira yang tadinya mati-matian kagak mau menyelamatkan Madriva, begitu mendengar suara Raja yang mirip Abel. Dia langsong mau pergi ke istana hari itu juga. What a simp ....
Mereka pergi ke Istana di atas awan menggunakan awan atau semacam itu. Melewati berbagai kenampakan alam Madriva yang diceritakan sepintas lalu. Aku tidak akan menghitungnya sebagai World Building. ALSO! Menamai APOLLO untuk dataran tinggi berisi pegunungan api alih-alih PLUTO? WHAT IS THE REASON?
Adegan selanjutnya sangat awikwok ... aku tidak tahu penulis lupa atau aku yang tidak menangkap ceritanya, tiba-tiba ada dialog begini dari Mina. "Seira, kamu yakin mau ke istana itu? Datang ke istana itu tanpa diundang sama saja bvnvh dyry, lhooo."
Kemudian Seira malah menjawab dengan sok Kul Bet. "Aku bukan orang Madriva, layau ... Peraturan itu tidak berlaku untukku."
Melihat itu, aku di kasur sebagai pembaca hanya bisa menjerit pasrah. Guys ... PAN BEBERAPA HALAMAN LALU RAJA NGUNDANG SEIRA KE ISTANA! MALAH SI RAJA NGANCEM KALO KAGAK DATENG BAKAL DILALAP API! Kok tiba-tiba ada percakapan begitu? Ses Sitta do you forget your own storyline? Aku rasanya mau nangis.
Di dalam istana, Seira akhirnya bertemu Raja Seth, alias Abel versi jahat. Mereka pun berdebat sejenak, perdebatan yang "memanas" meskipun harusnya tidak begitu sebab novel ini memiliki rating remaja. Banyak hal membingungkan terjadi setelah ini. Seth memberi jampi-jampi kepada Seira sehingga membuatnya terjebak di dalam mimpi indah yang sempurna.
Aku membuat catatan kalau mimpi sempurna Seira ini terlalu berporos pada Abel. Betapa bahagianya dia dalam mimpi itu karena sudah pacaran dengan Abel. Padahal kalau mau diperdalam, mimpi indah itu bisa dibuat lebih distopian lagi, lebih sureal. Misalnya orang tua Seira yang jadi harmonis, atau Seira yang tidak lagi pemalu dan jadi populer di sekolah.
Intinya, buat dunia mimpi Seira jadi begitu sempurna sampai dia sadar kalau semua itu terlalu indah untuk jadi nyata. Pada akhirnya berusaha menyadarkan dirinya dari jebakan mimpi tersebut. Aku rasa dengan begitu ceritanya akan lebih barokah, Seira sebagai "Sang Terpilih" pun punya peran lebih banyak daripada cuma ikut-ikutan ke sana-sini seusai kemauan penulis.
Sayangnya, Penulis memutuskan kalau Seira harus disadarkan oleh orang lain di dalam benaknya. Semacam suara qolbu, yang aku pikir tadinya itu suara hati Mina dan Tipsi sebagai teman barunya. Ternyata eh ternyata itu suara orang asing yang bahkan tidak pernah nongol sekali pun namanya di awal. Dateng-dateng malah jadi Deus Ex Machina. Sengaja ya bikin aku marah?
Begitu bangun dari mimpi, Seira pun mempertanyakan hal ultimatum kepada Raja Seth. "Kenapa aku yang harus jadi Putrimu? Kenapa aku adalah Sang Terpilih?"
Dan Raja Seth menjawab, "Karena kesedihanmu yang begitu dalam itu bisa memberiku kekuatan. Bersama kita bisa menguasai Madriva!!!"
Excuse me ... Kesedihan?
Mohon maaf, tapi aku menyebut ini First World Problem. Kesedihan Seira teh apa, sih? Pemalu, orang tua controlling, dan teman palsu. Dan bagi Seth itu adalah kesedihan begitu beratnya sampai-sampai bisa memberinya kekuatan lebih. Ekhem ... aku tidak bermaksud menyepelekan kesedihan orang kaya yang gud luking, but WHAT IN THE WORLD OF MADRIVA IS THIS?
Saking brekelenya dunia Madriva, kesedihan yang cuma segitu bisa memberi kekuatan yang begitu besarnya! Sampai bisa membuat Raja Jahat berkuasa, sampai bisa membuat orang-orang diperbudak. GET OUT!!!
Aku akan lebih senang kalau Seira jadi anak yatim-piatu, anak miskin-papa dan terbumli, korban KDRT semua orang di dunia. Ya, ceritanya lebih template, tapi masih lebih baik daripada anak cantik jelita, kaya raya, banyak teman, disukai semua orang, tapi sedih dan merana karena urusan sendiri aje! Bagaimana aku mau bersimpati pada anak ini, di saat hidupku jauh lebih merana!!!
Maafkan segmen adu nasib ini ... aku hanya merasa alasan Seira menjadi Sang Terpilih bisa lebih barokah. Aku tidak tahu apa contohnya. Bukan urusanku .... JK JK. Baiqlah mari kita pergi ke kontradiksi selanjutnya.
Di satu kesempatan Seth dan Seira akhirnya benar-benar bertarung. Seth menggunakan kekuatan sihir kristal di mahkotanya, sementara Seira menggunakan kekuatan Madriva dan imajinasinya untuk mengeluarkan senjata-senjata barokah. You know what ... aku akan menceritakan ulang adegannya, sebab segala hal dari adegan ini benar-benar awikwok.
***
WARNING! Adegan ulang buatan Impy yang 99,69% akurat seperti di buku.
"Seira, panahmu akan hilang karena kau kehabisan busur!!!" Tipsi berseru sambil terbang mengelilingi Seira yang sedang berduel dengan Raja Seth.
"Gak masalah, Cyn ... akan aku panggil lagi busurnya," balas Seira tetap fokus.
"JANGAN, NGAB!!! Kamu tidak bisa memanggil panah dua kali. Chakra-mu belum cukup kuat, kalau memaksanya nanti kamu malah metot! Untuk bisa mengalahkan musuh kuat, kamu harus memanggil panah emas!" Tipsi ngasih tau.
"Apa lu kata? Yaudin, kalo gitu guweh panggil Panah Emas!"
"JANGAN!!!!! Hanya sang terpilih yang bisa memanggil Panah Emas. Sang Legenda Madriva itu sendiri! Emang eloh udah jadi Legenda Madriva???"
"Ngaco nih manuk! Tadi katanya yakin guweh Sang Terpilih, tiba-tiba mempertanyakan status Sang Terpilih guweh. Au ah gelap. Guweh minggat aja dari sini!"
Seira pun ngambek dan pulang ke Jakarta. Tidak lagi berniat menjadi Sang Terpilih, alias Pahlawan, alias Legenda Madriva. Madriva pun runtuh dan dilupakan selama ribuan tahun. TAMAT.
***
Bagian akhir tentu aku bikin-bikin sendiri. Tapi yang sebelumnya ... HAH??? Kenapa tiba-tiba ada chakra? Padahal sepanjang novel kagak ada tuh aturan Seira kudu make Chakra! Yang penting dia fokus dan teguh aja segala hal bisa terjadi. Kok tiba-tiba jadi nongol Chakra?
Terus Panah Emas pula kok tiba-tiba jadi barang keramat??? Kagak pernah tuh disinggung-singgung tentang keberadaannya sejak awal. Padahal kalau memang sepenting itu, Seira harus sudah diwanti-wanti dan dikasih pilihan apakah dia ingin mempelajari cara mengeluarkan Panah Emas, atau cara memperkuat Chakra sejak awal kedatangannya.
Lah ini kagak! Semua serba tiba-tiba!!! Aduh, kepalaku pusing. Dan percayalah itu bukan ke-awikwokan terakhir dalam novel ini.
Entah bagaimana ... serius saat aku bilang "entah bagaimana" aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sebab transisi dari satu adegan ke adegan lain terlalu cepat, terlalu mendadak. Entah bagaimana Raja Seth tiba-tiba terbebas dari pengaruh kristal jahat sehingga membuatnya jadi baik. Oh, maaf ... jadi "Baik".
Seth tiba-tiba menyelamatkan Seira dari bangunan runtuh. Di sisi lain Seira juga merasakan "Sorot mata protektif" dari pemuda itu. WHAT IS HAPPENING??? Sebentar-sebentar Seth raja jahat diktator yang memusnahkan serta memperbudak Madriva. Detik selanjutnya kita disuruh bersimpati dan suka padanya dari sudut pandang Seira cuma karena dia nyelametin Seira.
Di akhir yang akhir banget ... Seira pun pulang ke dunianya. Dia dan Abel benar-benar memulai langkah sebagai pasangan UwU, meskipun setiap kali bersentuhan dengan Seira kulit Abel terasa melepuh. Oh iya ... aku lupa menceritakan bagian itu dari penokohan Abel. FAKK!
C. Penokohan
Seira. Rasanya ... Ses Sitta sangat menyukai Tokoh Utama Perempuan yang strong, independen, dan beda dari cewek lain. Belio membuat tokoh itu di Rumah Cokelat dan Aerial, walaupun hanya di Rumah Cokelat penokohan tersebut berhasil digambarkan secara barokah oleh Ses Sitta. Sedangkan Seira dan tokoh perempuan di Aerial punya masalah serupa.
Si tokoh terlalu sering membuat narasi seolah dia lebih baik dari cewek lain karena tidak feminim, tidak suka hal "Kecewek-cewekan". Dia cuma suka melakukan hal-hal stereotipikal cowok, dan itu membuatnya Kul Bet dan unik bin beda. Darling, NO! Alih-alih membuat tokoh perempuan strong dan independen, si penulis tanpa sadar atau dengan sadar malah menciptakan tokoh misoginis.
"Aku dibelikan barbie sama mamake, padahal aku tidak suka Berbie. Aku lebih suka pedang dan panahan, karena bisa main sambil lari-larian." Begitu kata Seira di suatu waktu. Okay ... kau bisa main Barbie sambil lari-larian, tho. Tidak ada yang melarang!
Maksudku, nih ... ingat saja rumus SHOW DON'T TELL. Daripada membuat Seira mengatakan hal-hal quirky nan tomboy Not Like Other Gorl begitu, kenapa tidak membuatnya punya insting kuat. Tidak mudah diperdaya, bisa berpikir jernih dan rasional, tidak plonga-plongo, mau mendengarkan saran orang lain, serta berempati tinggi.
INI MAH KAGAK! Ditarik ke sana-sini sama Seth, diperlakukan seenaknya, malah plonga-plongo. Tidak bisa berpikir jernih karena Seth mirip Abel, cowok yang dia suka. Tidak berpikir rasional saat tahu dirinya sedang ada dalam jebakan mimpi, malah keenakan. Kudu ditolong-tolong-tolong terus sama orang lain tiap terkena masalah. MANA STRONG DAN INDEPENDEN-NYA???
Seth. Satu lagi kesamaan tokoh di novel Aerial dan Magical Seira ciptaan Ses Sitta Karina. Tokoh cowok yang "Bad Buoy" tapi sebenarnya baik. Literatur Jepun biasa menyebutnya Tsundere gitu (bener kagak tuh!). Namun, ada perbedaan antara Lovable Bad Buoy dengan A-hole Bad Buoy, dan Seth tidak tergolong ke dalam keduanya. Penokohannya terlalu satu dimensi.
Aku tidak pernah masalah dengan Trope tokoh apa pun asal deskripsi tokoh dengan kenyataan perilaku tokoh sepanjang cerita cocok, visi dan misi si tokoh jelas, serta kalau akhirnya si Bad Buoy itu jadi baik konsekuensi atas sifat Bad-nya selama ini bisa sepadan. Jujurlly, tokoh Seth hampir sama dengan tokohku sendiri yang bernama Edmund.
Seorang raja jahat yang padahal tidak benar-benar jahat. Dia menjadi jahat karena pengaruh dari sesuatu yang misterius. Aku tidak akan membandingkan Seth dengan tokohku, karena itu akan bias. Namun, aku sangat tidak suka cara novel ini melupakan segala kejahatan Seth pada Madriva saat dia akhirnya lepas dari pengaruh buruk.
TIDAK ADA CHARACTER DEVELOPMENT DI SANA!
Bayangkan saja, dia diktator, mengobrak-abrik Madriva, memperbudak semua orang di Madrva. Eh, tiba-tiba menatap Seira dengan sorot protektif sekali saja dia langsung dianggap baik. Seira yang sudah dilecehkan segala rupa oleh Seth, mendadak jadi mengkhawatirkan Seth saat dia terancam masalah.
Mina yang tadinya benci setengah mati pada Seth. Masuk akal, karena wilayahnya dihancurkan oleh Seth dan orang-orangnya diperbudak, tiba-tiba kalem aja dan ikut khawatir saat Seth mengorbankan diri demi Seira bisa pulang. Kocaknya lagi ... motivasi Seth jadi Raja Jahat apa, sih? Untuk menguasai Madriva? Barangkali ....
Yang jelas, dia tiba-tiba bilang begini ke Seira ... "Aku punya kelemahan, Putri ... yaitu qamu, Beybeh." dan juga "Aku tidak bermaksud menyakitimu, Putri. Yang aku lakukan selama ini adalah melindungimu. Hanya kamu. Cuma kamuuuuu." (keinget lagu dari Kufaku Band dah guweh).
Terus Seira bilang apa coba? Dia bilang begini ... "DIA MELINDUNGIKU??? JADI SIAPA YANG SEBENARNYA JAHAT? SETH ATAU ABEL. KEMBAR DARI DUA DUNIA INI?"
YA DIA TETEP JAHAT DONG!!! Hanya karena dia melindungi satu orang (alias tokoh utama wanita Not Like Other Gorl kita) tidak otomatis membuatnya jadi baik! Dia tetap jahat dari apa yang dia lakukan pada Madriva. Kenapa tiba-tiba semua orang berterima kasih padanya? INI SEMUA TIDAK MASUK AKAL!!!
Mina dan Tipsi. Mereka tuh apa, sih? Pertama mereka tuduh-tuduhan tentang siapa yang paling yakin kalau Siera adalah Sang Terpilih. Mereka tidak tahu dunia mereka sendiri. Dikit-dikit bilang orang bisa melakukan segala hal asal yaqueen, tiba-tiba bilang kalo orang kagak bisa sembarangan melakukan segala hal kerana takut Chakra kagak cukup. Mereka membenci Seth, tapi tiba-tiba bersimpati sama Seth.
APA SIH??? APAAA???
Namun, harus aku katakan penokohan Mina lebih berhasil menjadi strong dan independen daripada Seira. Aku yakin Ses Sitta tidak menyadari ini. Seharusnya Seira juga digambarkan seperti ini daripada dia ngomong dirinya Not Like Other Gorl melulu. Stress guweh!
Teman-teman Seira (Anak Ekskul Cheers). Versi paling stereotipikal dan komikal dari cewek populer dan anggota Cheers. Coba kalian bayangkan seperti apa gambaran cewek populer dan anggota Cheers yang sering ditampilkan di film-film. Nah itulah mereka. Benar-benar satu dimensional.
Teman-teman Abel (Anak Ekskul Bola). Versi paling stereotipikal dan komikal dari cowok populer dan Atlet Sekolah. Coba kalian bayangkan seperti apa gambaran cowok populer dan Atlet Sekolah yang sering ditampilkan di film-film. Nah itulah mereka. Benar-benar satu dimensional. (Iya, aku copas kerana malas ngetik dua kali, h3h3).
D. Dialog
Dari sekian banyak hal awikwok nan wadidaw dari novel ini, Dialog adalah elemen yang paling tidak menggangguku. Dialog para tokoh di sini konsisten dan cocok dengan latar. Baik saat di dunia nyata maupun di dunia Madriva. Walaupun tidak ada dialog favorit dari tokoh-tokoh di sini, lantaran semuanya terasa satu dimensional.
Tidak ada yang punya narasi batin, atau intonasi, atau ciri khas di antara mereka. Seira sebagai tokoh utama cewek Not Like Other Gorl harus selalu mengambil keputusan gegabah, harus selalu bertarung, harus selalu terdengar sassy, walaupun pada akhirnya menye-menye juga kalo disajikan cowok tamvan.
Seth sebagai Raja jahat harus selalu bermonolog macam musuh-musuh di Power Ranger. Susunan katanya dibuat supaya menunjukkan kalau dia itu Bad Buoy banget. Dialog Mina hampir tidak punya perbedaan dari dialog Seira, lantaran mereka sama-sama Not ike Other Gorl. Dialog anak-anak sekolahan di sini juga sangat stereotipikal.
Aku rasa Sitta Karina sangat mengambil inspirasi dari film-film Drama Sekolah Holiwut semodel Mean Girls, Clueless, Legally Blonde, dan banyak lainnya. Percakapan anak-anak populer dalam novel ini lebih terasa vibe holiwut daripada Indonesia.
Sekali lagi ... aku tidak punya masalah dengan semua itu. Hanya saja, seperti yang aku bilang, tidak ada ciri khas, tidak ada yang unik, tidak ada yang memorable, tidak ada yang layak jadi favorit.
E. Gaya Bahasa
Novel ini memakai POV3 terbatas, seringnya dari sudut pandang Seira, meskipun beberapa kali berpindah ke Seth dan/atau Abel. Pemakaian POV cukup efektif, setidaknya bebas dari kebocoran POV. Kesalahan teknis dari gaya bahasa cuma tidak ada pembeda antara dialog langsung, dialog batin, serta dialog telepon. Entah itu kesalahan penulis atau editor.
Transisi antar satu adegan dengan adegan lain juga rada brekele. Terutama di bagian akhir. Berbagai hal terjadi, dikit-dikit Seira dan Seth lagi bertarung, detik selanjutnya main selamet-selametan. Di satu kesempatan mereka lagi santay, eh tiba-tiba diserbu Prajurit, terus tiba-tiba juga Prajuritnya ilang. Aku harus membaca satu adegan berulang-ulang untuk tahu apa yang sedang terjadi.
Ada satu momen di mana penulis menjabarkan bentuk sebilah pedang secara detail dalam narasi, tapi juga membuat Footnote tentang detail senjata tersebut, bahkan penyebutannya dalam bahasa jepang. Pengulangan info yang aku rasa tidak diperlukan, tidak ada urgensi juga bagi pembaca untuk tahu apa nama senjata itu dalam bahasa jepang.
Nah, setalah problem Teknis, sekarang kita beralih ke problem Development. Terutama perihal World Building. Ada hal aneh dari cara Sitta Karina membuat deskripsi dan narasi. Ses Sitta sangat gemar membuat penjabaran detail untuk hal remeh-temeh dari gaya hidup para tokoh.
Pakaian brended apa yang dikenakan para tokoh, tempat nongkrong para tokoh yang mahal dan kekinian, merk parfum mahal yang dikenakan para tokoh, merk mobil mahal yang dikendarai para tokoh, dan benda-benda elit lainnya. Belio juga begitu detail menjabarkan kegiatan edgy para tokoh yang aku bilang tadi, seperti stereotipikal kegiatan anak sekolah di film-film Holiwut.
Ironi di atas ironi, belio sangat andal menggambarkan kekayaan para tokoh, tapi sangat miskin dalam mendeskripsikan Madriva. Demi Neptunus, Demi Poseidon ... Selama Seira di Madriva, aku merasa dunia itu sepi banget. Tidak ada kehidupan selain tiga tokoh ini. Aku membayangkan Madriva jadi kayak unerving gitu. Aneh, karena sangat sepi.
Memang ada penyerbuan dari prajurit-prajurit Istana Seth yang seharusnya menegangkan dan riuh, tapi entah kenapa semua itu tidak tergambarkan. Di Istana Seth pun penggambarannya ala kadar banget. Tidak ada kegiatan khas istana selain interaksi antara Seth dan Seira. Seolah cuma mereka berdua yang hidup di Madriva.
Entahlah ... kalau penulis bisa begitu getol menceritakan hal remeh-temeh tentang kekayaan para tokoh, aku rasa belio sangat bisa menggambarkan kekayaan dunia Madriva supaya bisa lebih kompleks. Sayang banget, karena novel ini menampilkan visual peta Madriva, tapi informasi yang kita dapat tentang Madriva itu sendiri sangat sedikit.
Blurb mengatakan di Madriva ada istana di atas langit dan pelangi yang meninggalkan bercak warna di kulit. TERUS??? Ya, ada bunga raksasa, ya ada hutan warna-warni, ya ada burung kakak tua bisa bicara. TERUS??? Kenapa tidak dijelaskan kenapa Istana bisa ada di atas langit. Jelaskan kenapa pelangi bisa meninggalkan bercak warna di kulit, dan apa akibatnya?
Hellooowww judul novel ini THE LEGEND OF MADRIVA! WHERE IS THE LEGEND???
Well, to be fair ... ini baru buku pertama. Aku akan membaca novel kedua dan melihat apakah kita akan mendapatkan info lebih banyak tentang Madriva. Apakah kita akan bertemun orang-orang berbagai sifat dan budaya dari setiap sudut mata angin Madriva. Apakah kita akan mendapat info lebih banyak tentang peraturan sihir di Madriva.
Sebaiknya Ses Sitta berikan apa yang kumau, kalau tidak ... (Aku tidak dapat ancaman yang bagus, h3h3).
F. Penilaian
Sampul : 2
Plot : 1,5
Penokohan : 1,5
Dialog : 1,5
Gaya Bahasa : 1,5
Total : 1 Bintang
G. Penutup
Ses Sitta dengan segala hormat ... kata Impy mah dirimu fokus ke genre selain Fantasi aje dah. Aku ... tidak menemukan perbedaan siginfikan dari Magical Seira dengan Aerial. Keduanya dapat rating satu dari Impy. Keduanya sama-sama memiliki tokoh yang satu dimensi nan stereotipikal, sama-sama memiliki World Building semu, sama-sama memiliki banyak plot hole dan cacat logika.
Aneh rasanya, kenapa dua novel ini sangat berbeda dari Rumah Cokelat? Dan keduanya genre Fantasi. Bukankah itu sebuah pertanda kalau Fantasi mungkin bukan genre cocok untuk Ses Sitta? Aku penasaran dan mencari akun Goodreads Ses Sitta, dari situ aku menemukan terakhir kali Ses Sitta membuat novel fantasi adalah tahun 2013. Sedangkan, novel terbaru belio terbit tahun 2024 dengan genre Romance-Drama.
Informasi itu tidak membuktikan apa-apa. Hanya saja aku tahu kalau Ses Sitta masih membuat Serial Novel Fantasi setelah Magical Seira dan aku ... penasaran ingin membacanya, hanya untuk melihat apakah yang terjadi pada Magical Seira dan Aerial juga terjadi pada serial novel tersebut.
Percayalah aku BUKAN haters Sitta Karina, dan tidak berniat menjadi haters! Aku rispecc pada belio sebagai sesama penulis Fantasi. Namun, aku rasa belio tidak begitu menganggap novel Fantasi dengan serius. Tidak seperti novel-novel genre lain yang belio tulis. Mungkin untuk mengimbangi opini ini, aku harus membaca novel Sitta Karina dengan genre selain Fantasi, supaya opiniku semakin konkret.
BUT!!! Sekali lagi, ini novel pertama dari tiga seri (plus satu novel 2,5 ternyata, fakk!). HARUSNYA novel selanjutnya lebih barokah, dong? Iya, dong ... Tolong katakan iya!!!
Nah, segitu saja review dariku. Agak telat dua dekade tapi siapa yang peduli, yakan? HA HA HA! Aku akan bersiap untuk membaca novel kedua dan semoga di review selanjutnya kita tidak perlu julid. Oke BAY!!!
^o^/
Pojok Nitpick Bersama Impy
1. Seira jago main piano dan Kick-boxing, tapi untuk beberapa alasan dua keahlian itu tidak berguna sama sekali di Madriva. Seira malah dapet lungsuran kekuatan dari Mina supaya jago make panah dan pedang. Kenapa kagak dibuat Seira ikut kelas memanah atau semacamnya?
2. Jelas-jelas Seira dapet lungsuran kekuatan dari Mina, tapi di satu kesempatan ada narasi begini ... (Hal.125) Seira heran mendapati fleksibilitas dan refleks tubuhnya terus meningkat sejak tiba di negeri ini. Sempat terlintas ide, melihat bakatnya kini seharusnya dulu ia mendaftar sekolah militer.
Seira My Darling ... pertama, kemampuanmu itu bisa ada karena Mina memberikannya padamu beberapa paragraf lalu. Kedua, bagaimana ceritanya kau baru punya kemampuan itu SEKARANG, tapi kau kepikiran masuk sekolah militer DULU? LOGIKANYA KAN KAGAK MASUK!
3. (Hal. 144) Sosok itu (Seth) memandangi Seira dengan senyum yang tidak dapat diterkanya; Licik atau nakal. Seperti laki-laki yang melihat perempuan melintas dengan rok mikro-mini.
(Well that is oddly spesific 👁️👄👁️. Dan ingat, setelah dilecehkan begini Seira masih akan bersimpati dan berempati pada Seth. WOOOWW)
4. (Hal 153 Ceritanya Seth sedang menguji mental Seira dengan menunjukkan berbagai "kesedihannya") "Kau ingin dianggap," kata Seth.
Seira tertegun mendengar itu. Seth selalu tahu perkataan seperti apa yang akan membuat dirinya terenyak.
"Kau ingin diterima seperti apa adanya dirimu, di mana itu tidak akan terjadi di duniamu. Bahkan keluargamu. Kau," Seth merumuskan istiah yang paling mengena, "menginginkan tempat untuk pulang"
"Hentikan!" seru Seira. "Aku akan melakukan apa pun yang kau minta, tapi tolong hentikan itu dulu!"
(Here's the thing ... scene ini ingin aku merasa kasihan pada Seira tentang betapa sedih hidupnya. Juga ingin aku merasa terkagum-kagum akan kehebatan serangan mental dari Seth. Namun, jujurlly keduanya sangat LAME!!! LAME I TELL YOU!)
Comments
Post a Comment